Bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya. Pembelian ini menandai bulan ke-20 berturut-turut bank sentral Tiongkok mengakumulasi logam mulia tersebut. Langkah ini memperkuat posisi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Penambahan cadangan emas ini menunjukkan strategi Tiongkok untuk mendiversifikasi cadangan devisanya. Emas dipandang sebagai aset yang stabil dibandingkan mata uang fiat, terutama dalam situasi geopolitik yang bergejolak. Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) terus menunjukkan komitmennya pada emas.

Tren pembelian emas oleh bank sentral Tiongkok ini telah berlangsung konsisten sejak beberapa waktu lalu. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepemilikan emas negara tersebut, mencerminkan pergeseran preferensi aset global. Hal ini sejalan dengan tren bank sentral dunia lainnya yang juga meningkatkan cadangan emas mereka.

PBOC tercatat sebagai salah satu pembeli emas terbesar di antara bank sentral dunia. Keputusan ini bukan hanya sekadar akumulasi aset, tetapi juga sinyal penting mengenai strategi moneter dan pandangan Tiongkok terhadap stabilitas keuangan global. Peningkatan cadangan emas ini juga berpotensi memengaruhi pasar emas internasional.

Tren Pembelian Emas Berkelanjutan

Bank sentral China, melalui People’s Bank of China (PBOC), telah memperpanjang rekor pembelian emasnya menjadi 20 bulan berturut-turut. Seperti dilansir investing.com, pada akhir Juni 2026, cadangan emas negara tersebut mencapai 75,44 juta troy ounce halus. Angka ini naik dari 74,96 juta troy ounce pada bulan Mei 2026.

Periode 20 bulan ini menandai fase akumulasi emas terpanjang yang pernah tercatat oleh bank sentral Tiongkok. Sebelumnya, seperti dilaporkan investor.id, cadangan emas resminya telah meningkat menjadi 2.331 ton. Angka ini menunjukkan komitmen kuat Tiongkok untuk meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisanya.

Tren ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset pilihan utama bagi bank sentral Tiongkok. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan potensi pelemahan mata uang cadangan utama seperti dolar AS. Akumulasi emas ini juga sejalan dengan pandangan bahwa emas menawarkan perlindungan nilai yang kuat terhadap inflasi dan gejolak ekonomi.

Volume dan Nilai Cadangan Emas

Dengan tambahan terbaru, total cadangan emas Tiongkok kini mencapai angka yang signifikan. Sumber lain menyebutkan bahwa total cadangan emas Tiongkok mencapai 2.322 ton, yang merupakan sekitar 9% dari total cadangan devisa negara itu. Angka ini terus bertambah seiring dengan pembelian yang berkelanjutan.

Meskipun volume pembelian bulanan bervariasi, konsistensi dalam tren pembelian menunjukkan strategi jangka panjang Tiongkok. Pada April 2026, misalnya, PBOC dilaporkan membeli 8 ton emas, jumlah terbesar sejak Desember 2024. Data dari World Gold Council (WGC) menempatkan PBOC sebagai pembeli emas terbesar ketiga di antara bank sentral dunia pada bulan tersebut, setelah Polandia dan Uzbekistan.

Peningkatan cadangan emas ini tidak hanya berdampak pada neraca bank sentral, tetapi juga memengaruhi pasar emas global. Permintaan yang kuat dari bank sentral, termasuk Tiongkok, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong reli harga emas. Hal ini juga sejalan dengan temuan bahwa sebanyak 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas mereka akan meningkat dalam jangka panjang.

Implikasi Strategis dan Ekonomi

Pembelian emas oleh bank sentral Tiongkok memiliki implikasi strategis yang mendalam. Emas secara historis dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman dan aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik. Dengan meningkatkan kepemilikan emas, Tiongkok memperkuat ketahanan sistem keuangannya.

Langkah ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari upaya Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional dan cadangan devisa. Diversifikasi ke emas dapat membantu menstabilkan nilai tukar yuan dan mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi mata uang utama. Peristiwa seperti pembekuan cadangan devisa Rusia menyusul invasi ke Ukraina sejak 2022 semakin mendorong bank sentral untuk mencari aset yang lebih aman dan independen.

Selain itu, tren pembelian emas oleh bank sentral global telah meningkat signifikan sejak 2022. Hal ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam manajemen cadangan devisa. Emas menawarkan likuiditas yang baik dan dapat diterima secara universal, menjadikannya aset strategis dalam portofolio bank sentral modern. Rencana Tiongkok untuk terus menambah cadangan emas menunjukkan pandangan jangka panjang terhadap peran emas dalam sistem keuangan global.

Peran Emas dalam Cadangan Devisa

Emas memegang peran penting dalam strategi diversifikasi cadangan devisa suatu negara. Bank sentral Tiongkok secara aktif mengelola portofolio cadangan devisanya untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan imbal hasil. Dalam konteks ini, emas menawarkan karakteristik unik yang tidak dimiliki aset lain.

Sifat emas sebagai aset ‘safe-haven’ menjadikannya penting, terutama ketika terjadi ketegangan geopolitik atau ketidakpastian ekonomi. Seperti yang terlihat pada April 2026, ketika data WGC menunjukkan bank sentral global kembali mencatat pembelian emas bersih setelah sempat mengalami penjualan bersih pada bulan sebelumnya. Penjualan tersebut dipicu oleh dampak ekonomi dari perang dan kebutuhan beberapa negara berkembang untuk menopang nilai tukar mata uang domestik mereka.

PBOC, melalui pembelian emas yang konsisten, tidak hanya meningkatkan kepemilikan fisiknya tetapi juga mengirimkan sinyal kuat ke pasar global. Hal ini dapat memengaruhi persepsi investor terhadap emas dan kebijakan moneter Tiongkok. Kelanjutan tren ini kemungkinan akan terus menarik perhatian para analis keuangan dan pelaku pasar emas di seluruh dunia.

Dampak pada Pasar Emas Global

Pembelian emas oleh bank sentral, termasuk Tiongkok, merupakan salah satu pendorong utama dalam reli harga emas. Permintaan institusional yang berkelanjutan ini memberikan dukungan signifikan terhadap harga logam mulia tersebut, bahkan ketika faktor-faktor lain seperti suku bunga atau inflasi berfluktuasi.

Tren akumulasi emas yang meningkat sejak 2022, dipercepat oleh dinamika geopolitik, telah menjadikan emas aset yang sangat menarik. Bank sentral Tiongkok, sebagai salah satu pemain utama di pasar global, memiliki pengaruh besar terhadap pasokan dan permintaan emas fisik. Keputusan mereka untuk terus menambah cadangan emas dapat memicu reaksi berantai dari bank sentral lain atau investor institusional.

Kenaikan cadangan emas Tiongkok ini juga dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap mata uang Tiongkok, yuan. Peningkatan cadangan aset yang dianggap aman seperti emas dapat meningkatkan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Tiongkok, yang pada gilirannya dapat memperkuat posisi yuan di pasar internasional. Oleh karena itu, strategi akumulasi emas Tiongkok memiliki dampak yang luas, baik secara ekonomi maupun geopolitik.

Bagi para profesional yang bergerak di bidang keuangan, emas dan manajemen cadangan devisa adalah topik krusial. Memahami tren global dan strategi yang diterapkan oleh bank sentral besar seperti Tiongkok dapat memberikan wawasan berharga. Kami mengundang Anda untuk terus mengikuti perkembangan pasar keuangan global dan hubungannya dengan aset berharga seperti emas.

Apa pendapat Anda mengenai strategi Tiongkok dalam menambah cadangan emasnya? Bagikan pandangan Anda di kolom komentar di bawah!